“There is a thought in your mind right now. The longer you hold on to it, the more you dwell upon it, the more life you give to that thought. Give it enough life, and it will become real. So make sure the thought is indeed a great one.” —Ralph Matron
Sore berteman hot cappuccino, creme brulle, dan obrolan khas kami. Seperti mendapat “skak mat” sore ini tapi terimbangi dengan pemahaman (yang masih dalam proses untuk dipahami). Selalu menyenangkan. Mendewasakan hati dan pikiran untuk semakin mengenal diri lebih dekat, eksplorasi dan instropeksi.
saya patut bercemas diri, ketika waktu terasa cepat tapi hasil belum mengimbangi, patut bukan berarti harus, patut bukan berarti menundukkan diri pada kesedihan atau segala macam kegalauan. Lillahi ta’ala, saatnya berusaha lebih dan berpasrah secara bersamaan.
Sore yang kemudian berganti dengan keriuhan khas cafe. Apa kabar hati? Hari ini belajar banyak bukan? Semangat ya :)
selamat malam untuk bapak dan ibuku di rumah, kebaikan doa dan harapan tulus membuat hati ini hangat, cepat sembuh Bapak.
terimakasih Laya, mentor hati sore ini.
Malam-malam skripsi gak santai penuh asap rokok. Masker adalah senjata penyelamat! (Taken with instagram)
pipiku seperti bulan purnama
via stephhadylaya
Kafe Merak, Kopi 17ribuan, dan lain-lain
Peacock, 28 Mei 2012, 23:17 WIB
Kursi panjang berteman meja lingkaran, berteman asap rokok yang mungkin pekatnya terbawa hingga pulang nanti. ‘Sedikit’ dari jam-jam malam dihabiskan untuk mencicil satu angka dari sebuah bab yang enggan bergerak. Sampai larut, sampai udara di jalanan pun mendingin. Tidak lain semua hal yang ditahan sambil duduk menatap laptop dengan pikiran masing-masing yang sering-sering diluncurkan sebagai sebuah roket obrolan.
Bahkan dalam kepulan asap rokok dimana-mana, hati masih sempat berdoa, semoga disegerakan niat ke kafe merak ini tanpa laptop tapi dengan senyum kelulusan. Doa bisa dalam hati kan? Sruput dulu sisa minuman di gelas. Habiskan sampai tuntas.
Peacock, 28 Mei 2012, 23:30 WIB
kemarin yang berjarak beberapa menit
Kemarin yang berjarak beberapa menit, ada kabar bahagia dari seorang sahabat, ada pekerjaan yang tertinggal (lagi), ada sebuah buku kumpulan puisi, ada revisian skripsi untuk 8.40 pagi ini, ada sisa greentea latte yang tidak habis, ada semangat untuk bertahan, setidaknya untuk malam ini.
Apa kabar hati? Ia baik ketika menerima kabar bahagia, tersenyum lega untuk achievement yang diperoleh sahabatnya, “selamat menemukan amanah baru, kawan,bangga melewatkan fase sepersekian persen galau itu,” kata si hati.
Apa kabar hati? Kadang ceroboh itu membuat sesal menjadi betah tinggal. Ah, seandainya tadi tidak terburu-buru.
Apa kabar hati? Kumpulan puisi dalam sebuah buku yang diberikan oleh partner menulis terbaik, kata-kata semangat yang menenangkan sore kemarin.
Apa kabar hati? Banyak celoteh bila diteruskan, semua tentang kemarin.
Hai hati, apa kabarmu hari ini?
Kabar yang diinginkan dalam sebuah doa dalam hati itu sendiri.
t-1, t, t+1 = in/de(finite)
Waktu itu seperti badan, punya depan dan belakang. Punggung seperti masa lalu, dada seperti masa depan, dan otak adalah masa sekarang dimana terdapat memori tentang masa lalu dan memikirkan apa yang terjadi saat ini dan masa depan. Ada nostalgia dan estimasi.
Badan tidak terpisah, begitu juga waktu. t-1, t, t+1. definite. infinite
a quarter life crisis
Siapa yang Tahu?
“Hilanglah perasaan khawatir. Berusahalah untuk tidak melekat. Perdamaian hati bisa menghilangkan noda di batin. Berusahalah bebas dari kesenangan indra.”
Masih tersambung dalam email yang dikirimkan oleh Kak Andrea, di akhir pesan surel tersebut dituliskan kalimat di atas. Sedikit terkorelasi juga dengan obrolan dengan tiga orang hebat di kedai kopi malam ini, tentang dimana dan bagaimana dunia kerja yang (mungkin) tidak lama lagi akan menjadi realita sehari-hari. Ada ketakutan terselip, tidak bisa ditolak kehadirannya, tapi begitulah kalau mahasiswa tingkat akhir mulai berbicara soal dunia kerja.
Soal esok siapa yang tahu? Kadang muncul keinginan untuk minta bocoran dari Tuhan namun terkadang hati tersadar bahwa sebelum memaknai kerja sebagai bagian kehidupan, ada hal penting yang harus dimengerti terlebih dulu. Memaknai setiap proses dengan keikhlasan. Ketakutan dan kekhawatiran itu pasti ada, karena tidak bisa berbohong, kata gagal menjadi momok yang paling ditakuti. Namun sekali lagi, banyak hal yang tidak bisa dimengerti dalam waktu semalaman, tapi ada juga yang hanya butuh satu detik untuk dimaknai sebagai patokan hati dan pikiran untuk bersinergi. Tuhan punya rencana yang terbaik, karena saya yakin tidak ada yang sia-sia dalam tiap usaha, termasuk ketika harus mengulang sesuatu dari awal lagi.
Life is a journey that goes up and down.
Mencoba untuk tidak mengkhawatirkan terlalu dalam sebab kali ini adalah fase bersiap dan mencapai titik transit secepatnya. Ganbatte !
“Tiada kebahagiaan yang bisa disamakan dengan kebahagiaan batin”
“Semoga kamu berharap dengan kedamaian. Semoga kamu mengerti makna menjadi manusia”
dalam prosesi doa Perayaan Waisyak di Borobudur, 6 Mei 2012 (via andreaadhi@yahoo.com)
ingatan kembali, Tamagochi
Menabung semua apa yang dibawa pulang dalam lelah. Tiap kali berproses dan babak belur adalah sebuah hal tidak bernominal yang saya tabung dalam sebuah bejana virtual. Dalam keyakinan hati, saya meyakini suatu saat ada surprice yang akan hadir, membawa senyuman kebahagiaan dari tiap usaha.
Tidak muluk, saya sedang berproses.
*ingatan kembali tentang sebuah mainan waktu kelas 2 SD, Tamagochi
Terimakasih untuk doa yang menghangatkan hati.
Random Daze theme by Polaraul


